Tuesday, May 28, 2013

Ekspedisi Jakarta - Sintang - Putussibau - Badau



 Ekspedisi Jakarta - Sintang - Putussibau - Badau


Tadinya saya merasa dikadalin ketika mas Yos memberikan secarik kertas berisi  rincian jadwal perjalanan kami ke Putussibau. Di lembaran tersebut tertera bahwa perjalanan saya dari Pontianak ke Putussibau akan melewati jalur darat, sementara mas Yos dan Angga akan naik pesawat udara. Bayangan akan kesengsaraan naik mobil Innova sejauh 700an kilometer melintas di depan mata. Tapi saya akhirnya membajakan niat, perjalanan ini harus saya lakukan...
Senin pagi, 20 Mei 2013.
Penerbangan Garuda Indonesia  GA-0502 dengan pesawat Boeing 737-400 mendarat dengan keras di bandara Supadio, Pontianak pada pukul 09.00 WIB. Ini adalah penerbangan ke dua saya ke sini, sehingga saya sudah tidak terlalu kaget lagi dengan pendaratan ini. Landasan ini memang hanya sepanjang 2.500 meter, sehingga setelah "touch down", pilot langsung melakukan pengereman. Pesawat bahkan harus sampai ke ujung landasan untuk melakukan taksi ke apron. Saya, mas Yos dan Angga segera mengurus bagasi dan merapat ke kantin bandara untuk menunggu tim dari Kapanlagi.com yang akan bergabung dengan kami. Mereka naik pesawat yang jadwalnya satu jam setelah penerbangan kami.  Tugas kami bertiga memang hanya mensupervisi pembuatan video "viral story” Ditjen Pajak, sementara produksi kami serahkan kepada Kapanlagi.com selaku pemenang lelang.
Sejam kami menunggu akhirnya tim Kapanlagi.com datang juga. Kami berdiskusi mengenai "story board" dan membahas detil perjalanan. Tak lama datanglah mas Indra, sopir mobil Innova charteran yang akan membawa saya dan tim Kapanlagi.com ke Putussibau. Mas Yos dan Angga harus menginap semalam di Pontianak sebelum meneruskan perjalanan ke Putussibau karena pesawat Kalstar Air yang seyogyanya hari ini menerbangkan mereka batal terbang dengan alasan yang tidak jelas. Saya lihat wajah mereka kuyu menahan kecewa.
Saya dan tim Kapanlagi.com segera memboyong bawaan kami ke parkiran mobil. Sebuah Innova hitam terpakir di sana. Sopir dengan sigap membuka pintu bagasi. Aroma bensin meruah dari kabin Innova. Di bagasi mobil tergeletak dua jerigen bensin berukuran 50 liter. Kami terkejut dengan keberadaan dua benda itu.
"Kok bawa-bawa jerigen, mas?" Tanyaku pada mas Indra.
"Iya, pak. Untuk nampung bensin. Di Putussibau beli bensin dibatasi 10 liter per mobil."
Kami makfum adanya. Perjalanan etape pertama pun segera kami mulai pada pukul 12.00 WIB. Saya duduk di depan, sementara tiga orang tim Kapanlagi.com duduk di bangku tengah. Bangku belakang dilipat untuk menaruh bawaan kami, tas baju dan peralatan syuting dan foto.  Kami mengambil rute luar kota Pontianak agar tidak terjebak dalam kepadatan lalu lintas.
"Kalau ketemu masjid kita berhenti dulu ya mas, sholat dulu."
"Baik, pak Slamet."
Tidak terlalu mudah menemukan masjid di Pontianak. Yap, propinsi Kalbar memang didominasi tiga suku besar, Melayu, Tionghoa dan Dayak, dengan komposisi yang nyaris seimbang. Barulah setelah berkendara kira-kira 10 kilometer dari bandara, kami menemukan masjid. Masjid itu terletak di sebelah kiri jalan. Bangunannya sudah tua, tampak tidak terlalu terawat. Padasan tempat wudhu tampak berlumut. Air hujanlah yang ditampung di bak air, karena air tanah di sini memang jelek kualitasnya.
Kelar bersembahyang kami segera melanjutkan perjalanan. Kami memang tidak langsung menuju Putussibau, tapi akan menginap dahulu di Sintang. Jarak Pontianak - Sintang sekitar 395 kilometer. Mas Indra bercerita bahwa terdapat sekitar 20 kilometer jalan yang rusak sebelum masuk kota Sanggau dan Sekadau.
Benar saja, baru dua jam kami berkendara, kerusakan jalan mulai terasa. Aspal mulus tiba-tiba berlubang besar dan dalam. Bahkan di beberapa tempat tedapat jalan yang aspalnya telah benar-benar mengelupas. Jadilah jalan itu menjelma menjadi jalan tanah yang amat berdebu serta amat becek ketika hujan. Saya membayangkan inilah hari-hari yang dilalui teman-teman Ditjen Pajak yang bertugas di sini. Mereka tidak hanya terpisah jauh dari keluarga, tapi juga menghadapi tantangan alam yang luar biasa beratnya.
Di satu tempat yang jalannya rusak parah kami menepi. Saya meminta kameramen untuk mengambil gambar di sini. Saya ingin kerusakan infratrukstur ini direkam untuk dijadikan "scene" dalam video yang kami kerjakan. Ratusan truk bertonase besar setiap hari memang melewati rute ini. Mereka mengangkut hasil bumi dan hasil perkebunan berupa karet dan kelapa sawit.
Memasuki kabupaten Sanggu jalanan makin parah. Mas Didik, anggota tim Kapanlagi.com akhirnya tumbang juga. Dia mabuk darat. Untunglah kantong plastik hitam sudah dia siapkan. Ah... Rupanya kawan itu sudah merasa akan muntah... Kerusakan jalan ini amat mengganggu laju perjalanan kami. Waktu tempuh yang seharusnya hanya 5 sampai dengan 6 jam molor menjadi 8 jam.
Pukul 20.00 WIB kami memasuki kota Sintang. Kami beristirahat makan dan mengisi bahan bakar di pompa bensin ini. Inilah satu-satunya pompa bensin yang buka sampai malam hari. Di tempat lain di sepanjang jalan yang kami lalui semua pompa bensin telah tutup karena stok BBM sudah habis. Dua jerigen biru sudah diisi penuh. Makan malam ini terasa nikmat setelah 8 jam perut kami dikocok-kocok. Pukul 22.30 WIB kami akhirnya tiba di penginapan.
Selasa, 21 Mei 2013.
Pukul 07.00 WIB kami sudah berkumpul di ruang sarapan penginapan kami. Mas Yusman, pegawai seksi Ekstensifikasi KPP Pratama Sintang sudah hadir di sini. Dia memang akan menjadi salah satu pemeran dalam video ini. Kisah nyata dia melakukan sosialisasi pajak di kecamatan Badau akan kami rekam.
Kelar berdiskusi, kami menuju KPP Pratama Sintang. Kantor ini dulunya adalah Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan. Modernisasi Ditjen Pajak menghapus KPPBB dan menyatukannya dalam Kantor Pelayanan Pajak. Kami akan mulai "take" gambar di sini. Syuting berjalan lancar. Kepala KPP Pratama Sintang amat "welcome" dengan kegiatan ini. Dia menuturkan bahwa di tengah segala keterbatasan sarana dan prasarana, kantornya mampu memenuhi target penerimaan pajak tahun 2012.
Pukul 12.00 WIB kami melanjutkan perjalanan etape ke dua, Sintang - Putussibau. Mas Yusman turut bersama kami, menaiki mobil dinas kantor, Isuzu Panther yang sudah memprihatinkan kondisinya. Ke empat bannya sudah gundul kembangnya. Terus terang kami kawatir dengan kondisi tersebut mengingat beratnya medan yang akan kami tempuh sejauh 419 kilometer. Tapi apa daya, kami harus tetap bekerja.
Bukit Kelam 20 kilometer dari kota Sintang
Baru setengah jam berkendara, kami terpana dengan lansekap yang amat mempesona. Di sebelah kiri jalan terdapat bukit batu yang menjulang tinggi. Bukit Kelam namanya. Kami berhenti di sini. Satu "scene" kami ambil di sini, di sebuah kedai kopi. Pemandangannya amat eksotis. Langit biru berawan putih menaungi pucuk bukit Kelam. Penjaga warung ini seorang gadis belia berparas manis. Dia gadis Melayu. Ada dua pria yang juga sedang menikmati kopi di situ. Sayang di daerah ini tidak terjangkau sinyal telepon seluler sehingga kami yang suka narsis "update status" di media jejaring sosial jadi mati gaya.
Ngopi di kedai tengah hutan
Mas indra bercerita bahwa suatu malam dia berkendara sendirian sehabis mengantar penumpang. Di tengah hutan kaki-kaki mobilnya bermasalah sehingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Dia harus berjalan sejauh 5 kilometer untuk mencari sinyal telepon seluler dan menghubungi bantuan yang baru bisa datang keesokan harinya. Jadilah dia meringkuk sendiran dalam mobil semalam suntuk, di tengah hutan belantara. Inilah daerah pedalaman, jangankan sinyal telepon, listrik saja lebih sering matinya dari pada nyalanya.
Akhirnya kota Putussibau di ambang mata. Tugu selamat datang menyambut kami. Kami langsung menuju hotel tempat kami menginap. Namun kami hanya sempat mandi dan menaruh tas pakaian, karena malam ini juga kami akan melakukan "take" gambar di rumah dinas Kepala Kantor Penyuluhan Pelayanan dan Konsultasi (KP2KP) Putussibau. Kami disambut oleh pak Wagimin, kepala KP2KP Putussibau. Dia pria ramah berusia paruh baya. Perawakannya tidak terlalu tinggi, berkulit bersih dengan kumis melintang terpangkas rapi. Bertugas baru 4 bulan di kantor ini, dia mendapat promosi dari kantor lamanya di Kelapa Gading. Kami diajaknya masuk ke rumah dinasnya yang terletak persis di belakang kantor. Rumah itu seluruhnya terbuat dari kayu. Berukuran 6 x 10 meter, berisi 2 kamar tidur lengkap dengan dapur dan kamar mandi. Penerangannya agak temaram karena cahaya dari lampu hemat energi terserap oleh warna dinding kayu dan lantai yang juga terbuat dari kayu. Sebagian besar wilayah Kalimantan memang berupa lahan gambut yang nyaris sepanjang tahun kondisi tanahnya basah bahkan tergenang air, sehingga sebagian besar rumah di sini adalah rumah panggung.
Kami segera memulai syuting. Skenarionya adalah pak Wagimin sedang menjalani kesendirian di perantauan, tanpa anak dan istri. Memang demikianlah kenyataannya. Dia berteman sepi, menjalani hari di sini. Syuting baru berjalan satu adegan ketika mendadak seisi kota gelap gulita. Mati lampu. Ah...inilah pedalaman Indonesia... Kami terpaksa "break", menunggu lama, nyaris putus asa. Pak Wagimin bercerita bahwa dalam satu hari listrik bisa puluhan kali mati lampu. Itulah yang menyebabkan beberapa peralatan kantor yang memerlukan sumber daya listrik banyak yang rusak. AC dan komputer, contohnya. Sejam menunggu, akhirnya listrik nyala lagi. Kami bergegas melanjutkan syuting. Dua adegan terambil, kembali listrik padam. Kami mengambil jeda lagi. Badan sudah terasa capek, mata ngantuk bergayut, tapi pekerjaan ini harus kami selesaikan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Syukurlah tak lama listrik kembali menyala. Pukul 23.30 kami kembali ke penginapan yang jaraknya hanya 300 meter dari KP2KP Putussibau. Kami bersepakat, besok pagi pukul 06.00 WIB kami sudah harus berangkat ke kecamatan Badau yang jaraknya 200an kilometer dari sini.

Rabu, 22 Mei 2013.
Pukul 06.00 WIB kami sudah berkumpul di lobi penginapan. Perjalanan panjang menuju kota Badau akan segera kami lakukan. Tiga mobil sudah siap sedia, 1 Innova sewaan, 1 Panther dari Sintang dan 1 Terios dari KP2KP Putussibau. Peserta ekspedisi bertambah dua orang, pak Wagimin dan Rian, staff di KP2KP Putussibau. Kami segera berangkat.
Hanya perlu waktu 5 menit utk mencapai batas terluar kota ini. Sinyal telepon seluler segera lenyap. Kami dihadapkan pada jalan selebar 4 meter beraspal mulus. Kami mulai jarang menemui rumah penduduk. Sungguh sunyi perjalanan ini, sedikit mencekam. Bayangan tragedi kerusuhan suku Dayak dan Madura beberapa tahun silam melintas di benak saya. Nggak lucu aja jika tiba-tiba kami dicegat segerombolan orang berpakaian kulit kayu sambil mengacung-acungkan mandau... Ah... Segera saya tepis bayangan itu.
Kami baru berkendara selama sejam ketika mendadak kondisi jalanan berubah total. Jalanan yang semula beraspal mulus tiba-tiba berubah menjadi jalanan biasa tanpa aspal. Yap, benar-benar tanpa aspal dan belum pernah di aspal.
"Ini jalan baru, mas?" Tanyaku pada mas Dede, sopir Innova charteran kami.
"Idak, pak. Memang mak inilah jalannyo, belum diaspal," jawabnya dengan logat Melayu yang kental. Saya berasa sedang di Palembang...
Belum hilang kekagetan saya, mendadak mas Dede memelankan laju mobil. Di depan kami berjajar puluhan truk seperti sedang mengantre sesuatu.
Jembatan rusak menghadang perjalanan kami
"Wah, jangan-jangan jembatan depan putus, pak...," guman mas Dede.
"Yang bener, mas?" Sergahku.
"Ada apa di depan mas, kok berhenti?" Tanyaku kepada sopir truk yang kami lewati.
"Jembatannya rusak, pak. Kami nggak bisa lewat, tapi kendaraan kecil bisa kok, pak."
Mendorong Panther sebelum akhirnya excavator turun tangan
Saya menarik napas lega. Mobil dijalankan dengan pelan. Saya lantas meloncat turun. Naluri fotografer jurnalistik saya menuntun saya untuk segera mengokang senjata. Darah saya berdesir melihat pemandangan di depan mata saya. Jembatan itu sepanjang 15 meter setinggi 5 meter dari dasar sungai kecil. Konstruksinya semua terbuat dari kayu. Sisi kanannya runtuh total, menyisakan tiga per empat badan jembatan, tanpa pengaman di sisi tersebut. Alas kayunya runtuh di beberapa bagian sehingga di tengah-tengahnya tampak lubang menganga. Saya turun ke sungai di bawah jembatan untuk mengambil foto dari sana. Pemandangan dari sana lebih mengerikan lagi. Saya berdebar-debar ketika Terios melewati jembatan itu. Syukurlah bisa terlewati dengan sukses dengan dipandu para pekerja yang tengah mengerjakan jembatan darurat di sebelahnya. Mobil kedua adalah Innova yang tadi saya kendarai. Kali ini lajunya lebih pelan karena bodinya lebih bongsor. Perlu waktu sekitar 3 menit untuk melalui jembatan kecil itu. Sukses. Mobil terakhir adalah Panther. Rupanya Rian yang jadi sopirnya. Dengan pelan dia memajukan mobilnya. jembatan tinggal seperempat lagi ketika terdengar bunyi "brak". Kami terdiam. Panther berhenti. Rian mencoba memajukan mobil tapi tidak bisa. Tampaknya ada batang kayu yang mengganjal lajunya. Beberapa orang lantas membantu mendorong mobil itu, tapi tak berhasil. Mobil itu bergeming. Lantas mandor proyek itu menawarkan bantuan. "excavator" yang sedang mengeruk material jembatan darurat perlahan mendekat Panther. Garpunya dipasangi tambang besar kemudian ujungnya dikaitkan ke bawah bumper Panther. Hanya perlu gerakan ringan buat si "excavator" untuk membebaskan si Panther dari jebakan maut tersebut. Kami bernafas lega. Perjalananpun segera kami lanjutkan.
So far away from home



Dua jam berikutnya perjalanan kami lancar-lancar saja sampai kemudian kami menemui hambatan serupa. Kali ini jembatan kayunya juga rusak meski tidak separah tadi. Kami terpaksa turun dari mobil untuk membantu sopir mengarahkan roda mobil agar tidak terperosok dalam lubang yang menganga. Syukurlkah hambatan tersebut bukan masalah besar bagi kami. Pengendara sepeda motor yang kebetulan melintas di belakang kami terpaksa turun dari motornya dan menuntun sepeda motornya melalui jembatan itu.
Danau Sentarum
Jalanan di depan kami tiba-tiba menanjak curam. Inilah satu-satunya tanjakan ekstrem yang kami temui sepanjang perjalanan. Kalimantan memang tidak berbukit-bukit seperti Jawa dan Sumatera. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah dataran nyaris rata dan luas. Tak lama tanjakan itu berakhir di sebuah punggung bukit. Jalanan kembali menurun. Pandangan saya terpana. Di kejauhan, di bawah sana tampak terbentang danau Sentarum yang airnya membiru memantulkan warna langit di atasnya. Pandangan saya terbingkai oleh rimbunnya pepohonan yang rumbuh di kiri kanan jalan yang menurun di depan kami. Sudut ini menimbulkan kesan mistis buat saya. Betapa tidak, dari atas puncak bukit berhutan lebat tiba-tiba menyeruak soso danau luas di kejauhan sana. Bagi saya kemuculannya terasa tiba-tiba dan ganjil. Kami mengambil beberapa "scene" adegan di sini sebelum akhirnya kami melanjutkan sisa perjalanan.
Akhirnya pukul 12.00 WIB kami tiba di Badau, sebuah kota kecamatan terluar di propinsi Kalimantan Barat. Perbatasan dengan negara Malaysia hanya 5 menit dari kota ini. Kami langsung menuju kantor Camat Badau. Bangunannya masih baru, bahkan terkesan belum selesai dibangun. Di sana-sini masih berceceran material bangunan. Lahan perkantoran ini amat luas, seluas lapangan sepakbola. Perut melilit dilanda lapar. Saya pikir kami akan dijamu makan siang dahulu sebelum melakukan sosialisasi perpajakan, tapi rupanya dugaan saya meleset. Tidak tampak ada persiapan makan siang buat kami. Sebetulnya acara sosialisasi perpajakan masih sejam lagi, tapi teman-teman rupanya langsung setting peralatan presentasi. Saya hanya duduk mencakung di luar kantor. Tiba-tiba saya mendengar canda segerombolan anak-anak SD pulang sekolah. Segera saya memburu arah suara tersebut, benar saja, belasan siswa SD duduk bergerombol di bawah sebuah gereja. Saya dekati mereka, saya siapkan kamera saya.
Keceriaan anak-anak multi etnis
"Halo dhik... Mau om foto?"
"Mau ooooom...!"
"Ayuk-ayuk senyum semua ya...."
Sontak mereka memasang senyum polos. Beberapa pose saya jepret dengan segera. Saya juga berbincang dengan mereka. Rupanya mereka sedang menunggu bus jemputan yang akan membawa nereka pulang ke daerah perkebunan kelapa sawit. Ah, anak-anak ini begitu ceria. Ditilik dari wajahnya, asal suku mereka beragam. Ada yang berkulit sawo matang, saya taksir dia peranakan Jawa. Benar saja, dia ternyata keturunan Jawa. Ada yang berkulit kuning langsat rupanya peranakan suku Melayu. Ada pula yang bermata sipit, ternyata peranakan suku Dayak. Mereka bercanda tak kenal sekat pembatas. Kepolosan memang meniadakan batas kesukuan. Rasanya kita harus banyak belajar bergaul dengan mereka.
Pukul 13.00 WIB acara sosialisasi perpajakan dimulai. Pesertanya adalah PNS di kalangan kantor camat Badau dan Wajib Pajak di kecamatan Badau. Jumlahnya saya hitung mendekati angka 50 orang. Sebuah jumlah yang patut diapresiasi. Mas Yusman dan Rian secara bergantian membawakan materi tentang Hak dan Kewajiban perpajakan. Pada sesi tanya jawab ternyata penanya amat kritis. Pertanyaannya amat beragam, mulai dari hal teknis sampai hal kebijakan dan makro ekonomi. Saya tidak menyangka ada pertanyaan mengapa nilai hutang negara kita mencapai 2.000 triliun rupiah. Sebuah pertanyaan yang bahkan saya sendiri tidak tahu jawabannya. Satu fakta yang menyedihkan adalah bahwa di kota ini tidak ada satupun kantor bank, sehingga apabila Wajib Pajak mau menyetor pajak harus pergi ke Putussibau. Sebuah kenyataan yang amat memilukan. Mereka berharap agar Bank Indonesia mampu menyikapi hal ini.
Sosialisasi Pajak di Kecamatan Badau
Sosialisasi itu berjalan seru sampai-sampai kami dengan terpaksa mengakhirinya pada pukul 16.00 WIB dengan menyisakan beberapa pertanyaa yang menjadi PR kami. Kepala saya sakit sekali menahan lapar. Tapi saya amat bangga, tugas sosialisasi di Badau telah tunai. Apalah arti lapar dan dahaga apabila limapuluhan orang dengan takzim mengikuti dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan ini? Bangsa ini memang harus tegak di atas kaki sendiri, dan pajaklah tiangnya...
Kami bergegas mencari warung makan untuk mengisi perut. Warung yang amat sederhana itu akhirnya kami temukan. Terletak di tengah-tengah pasar. Pelayannya dua orang wanita paruh baya. Menunya pun sekedarnya. Saya dengan semangat mengupas sebutir telur. Belum selesai saya mengupas, Rian berguman.
"Baru sekali ini saya liat ada orang makan telur asin pake dikupas"
"Heh? Ini telur asin to? Kok warnanya putih gini?"
"Iya pak Slamet. Itu telur asin dari Malaysia."
Saya terdiam. Kejadian barusan semakin menyadarkan saya akan keterpencilan kota ini. Saya baru menyadari betapa jauh perjalanan kami hanya demi sebuah ego menegakkan kehormatan institusi.
Pukul 17.00 kami bergegas kembali ke mobil. Kami harus segera kembali ke Putussibau. Hujan rintik menaungi perjalanan pulang kami. Hari mulai gelap. Tapi saya tidak merasa takut lagi. Ada satu fenomena menarik yang saya temui di sepanjang perjalanan darat Pontianak - Badau. Saya sering menemui sebuah sepeda motor terparkir begitu saja di pinggir jalan, bahkan kadang di pinggir hutan. Pemiliknya entah kemana. Mas Indra dan mas Dede bercerita bahwa daerah ini sangat aman. Pemilik motor tidak perlu kawatir akan kehilangan sepeda motornya. Saya kagum dengan kondisi ini. Di tengah keterbatasan ekonomi, masyarakat sini amat menjauhi sikap buruk, mencuri harta milik orang lain. Jadi tidak ada alasan lagi buat saya untuk takut menempuh 200 kilometer meski harus melalui hutan belantara di malam hari.
Setelah berkendara selama 5 jam akhirnya kami sampai kembali di Putussibau. Kami tidak langsun kembali ke penginapan tetapi menuju KP2KP. Malam ini masih ada satu “scene” yang harus kami selesaikan. Badan saya sangat penat, tapi segera sirna ketika tida kesatria pajak, mas Yusman, pak Wagimin dan Rian masih bersemangat menjalani adegan. Pukul 22.30 WIB kami menyelesaiakan tugas hari ini. Tersisa setengah hari esok sebelum saya kembali ke Jakarta.

Kamis, 23 Mei 2013
KP2KP Putussibau
Pukul 08.30 WIB kami sudah berkumpul di KP2KP Putussibau. Saya kagum, di tengah hujan rintik kecil beberapa Wajib Pajak sudah berada di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Aktifitas mereka pun beragam, mulai dari melaporkan SPT sampai mendaftarkan diri menjadi Wajib Pajak. Kawasan ini sesungguhnya menyimpan potensi perekonomian yang lumayan besar. Sektor perkebunan mendominasi mata pencaharian penduduk kabupaten Kapuas Hulu. Ada satu lagi sektor perekonomian yang berpotensi besar, yaitu peternakan ikan Arwana. Saya baru tahu kabupaten ini salah satu penghasil ikan Arwana dari seorang teman yang berkomentar di dinding Facebook saya ketika saya memasang status tentang tujuan perjalanan saya tempo hari. Di sebuah rumah makan yang tidak tergolong besar saya temui sebuah akuarium besar berisi seekor arwana yang harganya di Jakarta mencapai puluhan juta rupiah.
Syuting segera kami mulai. Skenarionya adalah aktifitas pelayanan sehari-hari di KP2KP Putussibau. Orang boleh menyepelekan profesi artis, tapi percayalah, ketika sudah berhadapan dengan kamera yang namanya adegan tersenyum saja bisa menjadi sesuatu yang sangat sulit.
Pemeriksaan kesehatan di puskesmas Putussibau
Pukul 10.30 WIB syuting penutup selesai kami lakukan. Tapi pekerjaan kami belum selesai. Kami masih harus mencari puskesmas untuk kami syuting dan kami foto sebagai bahan iklan tentang manfaat pajak. Syukurlah puskesmas itu segera bisa kami temukan. Prosedur perijinan pun tidak berbelit-belit. Kepala puskesmas sangat mendukung pekerjaan kami. Beragam aktifitas pelayananan kesehatan, mulai dari poliklinik umum sampai dengan poliklinik gigi kami rekam, termasuk pelayanan di instalasi farmasi.
Kelar mengambil gambar kami segera pamitan. Tragedi itu tak kami nyana sebelumnya. Mobil Panther kami ternyata parkir di lahan becek di halaman puskesmas. Bannya selip, berbagai upaya sudah kami lakukan untuk membebaskannya dari jebakan lumpur. Keringat mengalir deras dari sekujur tubuh kami. Akhirnya setelah berjibaku selama setengah jam, mobil berhasil kami bebaskan. Fiiiuh…. Inilah pedalaman, bahkan halaman puskesmas pun bisa jadi jebakan.
Akhirnya pukul 12.00 WIB seluruh tugas pengambilan gambar dan video bisa kami selesaikan. Mas Yusman dan tim Kapanlagi.com kembali ke Sintang dengan menumpang mobil Panther. Saya, mas Yos dan Angga akan menaiki Kalstar Air pukul 14.30 WIB nanti. Saya habiskan waktu menunggu di sini sembari berbincang-bincang dengan penjaga kantor. Saya teringat, beberapa tahun silam teman sekelas saya di DIII STAN berkantor di sini karena mengikuti suaminya yang juga bertugas di KPPN Putussibau. Sedang asyik-asyiknya berbincang tiba-tiba Angga datang membawa kabar buruk.
“Mas, Kalstar delayed sampai jam 16.50”
“Waduh, padahal Garuda kita jam 18.00 ya?”
“Iya mas… Gimana dong?

Saya tidak bisa berkata apa-apa sampai kemudian saya menemukan ide.
“Cari penerbangan lain aja, Ngga. Yang penting malam ini bisa pulang.”
“Ok, mas’
Angga segera telepon sana-sini dan “browsing” di internet. Melihat ekspresi wajahnya tampaknya perburuan dia mengecewakan.
“Batavia dan Lion malam ini habis semua, Mas. Garuda besok juga “full booked”. Gimana dong?”
“Ya sudah, kita bertaruh dengan nasib saja, Ngga. “Web ceck in” dari sini. Kalo memang jodoh pasti kita akan terbang dengan Garuda itu.”
Saya lantas teringat dengan kejadian hari Jum’at seminggu yang lalu. Waktu itu saya dan teman-teman bertugas ke Medan. Saya harus pulang dengan pesawat Garuda pukul 20.00 WIB. Pukul 16.00 kami masih berada di daerah Parapat Danau Toba. Jadilah kami berkendara sepanjang hampir 200 kilometer sembari menahan nafas. Syukurlah waktu itu kami berhasil sampai di bandara Polonia Medan tepat waktu, saat panggilan terakhir telah dikumandangkan.
Kali inipun demikian. Taruhlah pukul 16.50 WIB nanti kami akan “take off” dari Putussibau, maka kami akan “landing” di Pontianak pukul 17.50. Proses taksi pesawat dari landasan ke apron paling tidak 10 menit, maka kami baru bisa turun dari pesawat pukul 18.00 WIB. Sementara pada jam tersebut pesawat Garuda yang akan kami tumpangi mungkin sudah boarding. Ah… kembali saya menguatkan keyakinan, bahwa kami akan naik pesawat itu.
Pukul 15.30 WIB kami berangkat ke bandara Pangsuma, Putussibau. Hujan rintik membasahi jalanan yang kami lewati. Hanya sepuluh menit perjalanan kami ke bandara itu. Awan gelap menggantung di langit Putussibau.  Saya menenangkan diri. Kami bertiga segera memasuki ruang tunggu keberangkatan meskipun jadwal terbang kami masih lama. Percuma juga nongkrong di luar, tidak ada tempat duduk untuk menunggu, hanya ada satu kantin kecil yang penuh oleh pengunjung lain. Saya bertanya ke petugas Kalstar Air tentang kabar terakhir penerbangan kami. Jawabnya masih sama, pukul 16.50 WIB.
Tepat pukul 16.35 WIB pesawat yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba. Pesawat turboproof ATR 42-400 buatan Perancis itu mendarat dengan suara menderu. Kami segera berebut paling duluan sampai di dalam pesawat agar bisa memilih tempat duduk di dekat pintu masuk/keluar. Tujuannya adalah agar begitu mendarat di Pontianak kami segera bisa turun untuk mengejar Garuda kami.
Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.55 WIB ketika pilot mengumumkan saat tingal landas telah tiba. Kursi penumpang berkapasitas 48 penumpang terisi semua. Ini adalah satu-satunya penerbangan dari Putussibau ke Pontianak dengan waktu tempuh satu jam. Laju pesawat yang terbang pada ketinggian 14.000 kaki ini terasa amat lambat. Sesekali saya menoleh ke Angga yang duduk di belakang saya. Senyumnya sudah hilang sedari tadi. Pasti banyak yang sedang dipikirkannya. Bayangan akan kerepotan yang harus dia jalani seandainya kami tertinggal Garuda memenuhi kepalanya. Maklum, dia memang mengurusi hal khusus, akomodasi perjalanan dinas kami dan mempertanggungjawabkannya ke Pejabat Pembuat Komitmen. Resiko pekerjaannya besar, menyangkut pertanggungjawaban belanja uang negara.
Tiba-tiba pesawat berguncang-guncang. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman menyala. Saya lihat jam tangan saya baru menunjukkan pukul 17.35 WIB. Artinya ini belum saat mendarat. Pesawat juga belum mengurangi ketinggiannya. Sesaat kemudian terdengar pengumuman dari pramugari, cuaca buruk menghadang kami. Saya melihat keluar jendela. Awan hitam menggantung di atas pesawat kami. Pesawat kami terus bergoncang-goncang. Keadaan makin diperparah karena sudah saatnya mengurangi ketinggiannya. Dua baris bangku di depan saya di tempati satu keluarga, ayah, ibu dan dua anaknya yang masih balita. Anaknya muntah-muntah tak kuasa menahan efek guncangan. Seisi pesawat terdiam, cuaca di luar teramat gelap. Pesawat mulai tenang ketika sudah “descending” ke posisi mendarat. Hujan deras di luar sana. Tetesan airnya merambat di kaca jendela. Saat mendarat telah tiba.
Tepat pukul 18.05 pesawat menyentuh landasan dengan lembut. Pandangan saya nanar menyapu apron bandara. Saya sedang mencari-cari sosok Boeing 737-400. Tidak ada di sana, yang ada hanyalah Boeing 737-900 ER dengan warna oranye, Lion Air. Saya lemas, pasrah… juga  Angga dan Mas Yos.
Begitu pesawat berhenti sempurna saya langsung berdiri dan bersiap di depan pintu yang belum terbuka. Seorang pramugari cantik berjaga di sana.
“Garuda jam 6 sudah terbang ya, mbak?” tanyaku kepadanya.
“Kurang tahu ya, pak. Tapi kayaknya tadi saya dengar dari radio  malah batal terbang dari Jakarta.”
Jawaban yang tidak kuharapkan sama sekali.
Pintu itu lantas terbuka. Sebuah anak tangga dijulurkan dari atas truk pengangkut. Saya bergegas menuruninya. Kepada petugas penjaga tangga saya kembali bertanya hal yang sama. Jawabannya tidak lebih memuaskan dari sebelumnya.
“Wah saya malah tidak merhatiin, pak. Coba Bapak tanya ke “driver shuttle bus” itu, pak,” jawabnya sambil menunjuk ke arah bus yang akan membawa kami ke terminal kedatangan.
Tanpa menghiraukan hujan yang deras membasah, saya berlari ke bus itu. Sebetulnya petugas menyediakan payung, tapi saya tidak menggubrisnya. Saya orang pertama yang mencapai bus itu. Dengan nafas tersengal saya mendekati sopir.
“Pak, Garuda ke Jakarta sudah berangkat, ya?”
“Yang jam 6 ya pak?”
“Iya, pak. Yang jam 6.”
“Oh, belum  pak. Masih “holding” di atas,” ujarnya sembar menunjuk langit.
Saya hampir terduduk lega. Angga dan mas Yos yang tiba belakangan di bus segera ku sambut dengan satu kalimat.
“Kita hanya perlu satu keyakinan, maka semesta akan mengamininya.”


Jakarta, 28 Mei 2013.
Post a Comment