Friday, February 28, 2014

Cara Darwis Triadi Memandang Obyek














Saya rada kecewa ketika panitia mengabarkan bahwa akhirnya yang menjadi nara sumber Workshop Fotografi Jurnalistik Lanjutan om Darwis Triadi. Bagi saya, nama besarnya tidak berada pada bidang fotografi jurnalistik. Bagi saya, seorang Darwis Triadi hanyalah seorang fotografer model wanita-wanita cantik. Bagi saya, seorang Darwis Triadi tak layak menggantikan Arbain Rambey dan Oscar Motuloh, dua nama yang sempat saya hubungi tapi tak bisa karena alasan waktu.
Ketika akhirnya pagi ini sosoknya sudah muncul di hadapan kami, stigma itu masih saja melekat. Sejujurnya ini bukan kali pertama saya bertemu dengannya secara langsung. Beberapa bulan lalu saya bersua dengannya di sebuah acara di gunung Bromo. Saya malas menyapanya. Menurut saya waktu itu, dia adalah sosok yang dingin, asyik dengan kamera mirrorless-nya, seperti kutu loncat yang sibuk mencari sudut pemotretan, dan tak peduli dengan keberadaan orang lain. Sungguh  bukan tipe manusia yang saya sukai.
Dia menggebrak pertemuan pagi ini dengan satu kalimat, bahwa di era kamera digital ini fotografi harusnya bebas dari accident teknis. Quote yang menohok, karena dalam kiprah saya selama 10 tahun di dunia fotografi tak mampu membebaskan saya dari serangkaian accident teknis. Dia lantas mengumandangkan rentetan postulat. Bahwa fotografi itu seharusnya menjadi kegiatan yang menyenangkan, tidak boleh dibikin rumit, apalagi berkutat di masalah teknis. Lagi-lagi saya tertohok, skak mat. Bagi saya urusan teknis, utamanya setting warna, adalah urusan krusial dan misterius. Lha dia ini kok dengan enteng bilang begitu.
Dua layar yang disiapkan di kelas tak segera menampilkan slide-slide yang menuntun saya lebih memahamii fotografi jurnalistik. Dia malah sibuk berceloteh sesuatu yang menurut saya tak terlalu ada hubungannya dengan tujuan workshop ini. Sumber cahaya tunggal, pendekatan ke obyek, jangan risau dengan noise, cerita tentang pengalamannya, adalah serangkaian materi yang menurut saya mulai membosankan. Oke lah, dia memang kampium di bidang fotografi model, tapi saya masih bukti bahwa dia layak jadi nara sumber di workshop ini.
Maka ketika dia mulai membuka sesi tanya jawab, saya langsung mengangkat tangan. Inilah saatnya menguji kelayakan dan kepantasannya. Saya menyanggah teori dia bahwa  memotret manusia itu lebih bagus di area shade dan low light. Bagi saya, memotret manusia, terutama untuk tujuan keindahan skin tone, harus melibatkan siraman cahaya secara langsung, atau hasil foto akan mendem warnanya. Dia tak banyak menguraikan teori untuk menjawab sanggahan saya tersebut. Jawabannya pun hanya singkat,
“Nanti mas Slamet hunting di sebelah saya, ya. Saya tunjukkan bukti dari teori saya tadi.”
Devie, seorang kawan yang selama ini saya anggap linuwih di bidang street photography, nimbrung dengan sebuah pertanyaan menarik.
“Pak Darwis,bagaimana caranya memotret agar pesan yang pengin kita sampaikan itu sampai ke pikiran pemirsa?”
Pertanyaan ini saya nilai menarik, karena selama ini saya selalu berhasil menangkap pesan dalam fotonya. Jawaban berikutnya mulai sedikit menggeser stigma saya ke om Darwis.
“Yakinlah dengan perasaanmu sendiri, karena jika kamu tidak yakin, gimana orang lain bisa yakin?”
Saya rasa jawaban itu amat dalam maknanya. Selama ini saya cenderung mengekor ide orang lain dan tidak percaya diri dengan ide kreatif saya. Arbain Rambey pernah bilang bahwa kreatifitas adalah sebuah penjiplakan yang tidak ketahuan. Itu pun tak cukup membuat saya mampu menumbuhkan kepercayaan diri saya selama ini. Namun pernyataan om Darwis barusan mampu menutup gerbang keminderan saya.
“Jadi Saudara-saudara, memotret adalah menghubungkan mata Anda dengan hati anda. Kamera anda itu benda bodoh yang kepintarannya tergantung dua indera Anda itu.”
Lagi-lagi saya terdiam. Selama ini saya mendewakan benda mahal berwarna hitam pekat ini. Mendengar pernyataannya barusan, saya sebetulnya terpancing untuk bertanya lebih jauh. Namun seorang teman lebih dahulu mengangkat tangannya.
“Apa maksud pernyataan itu, Pak?”
“Gampang, ketika air liur Anda meleleh ketika melihat rujak di siang hari, maka itulah tandanya terjadi kontak antara mata dan hati Anda.”
Jreng.... sebuah analogi yang menurut saya sangat mudah dicerna siapapun.
“Itulah kenapa saya tadi bilang, jangan berkutat ke urusan teknis foto. Kedepankan rasa Anda. Maka ketika rasa itu sudah mendominasi, publik akan maklum dengan foto Anda yang under maupun over. Sesederhana itu.”
Saya lantas teringat dengan diskusi panjang lebar dengan mas Gathot Subroto. Kakak kelas saya ini memang pendiriannya kuat. Dia juga bilang hal yang sama, rasa, rasa, dan rasa. Semula saya menolak dogma rasa itu. Bagi saya, foto itu bahasa visual yang sarat unsur teknis, bukan rasa.
“Nanti kita akan sama-sama hunting ke jalan Malioboro. Pesan saya cuma satu, manusiakan obyek foto Anda. Memang benar, separuh dari jiwa kita adalah pencuri, tapi tetap kedepankan rasa kemanusiaan Anda, kecuali Anda mau motret cicak.”
Sore itu Yogyakarta usai disiram hujan ringan. Halaman hotel Inna Garuda masih tergenangi air di beberapa bagian. Kami ber dua puluh bak robongan bebek yang mengekor sang penggembala. Jalan Malioboro ini bak medan pertempuran yang menuntut kejelian kita untuk bersembunyi, atau kita akan tewas tertembak musuh. Ribuan obyek foto bertumpuk di sana. Meskipun ini kali ke sekian saya motret di sini, saya belum bisa menemukan bahkan sekeping obyek yang menarik. Saya lantas teringat perkataan Devie Koerniawan, bahwa kunci dari keberhasilan menemukan obyek adalah penghargaan terhadap kesederhanaan. Dia bercerita bahwa dari buku yang baru saja dia khatamkan, ada sebuah tolok ukur kejelian seorang fotografer. Penulis buku itu mengatakan bahwa apabila Anda sudah bisa menemukan 20 obyek dalam ruang toilet yang Anda duduki, maka Anda baru bisa dikatakan berhasil menghargai sebuah kesederhanan obyek foto. Blaik...
Saya masih asyik mengatur setelan kamera, ketika saya sadari om Darwis sudah asyik jeprat-jepret di luar pagar hotel. Pria yang selalu mengenakan topi ini tengah berdiri di depan tukang becak yang sedang mangkal di depan gerbang hotel. Jarak antara dia dengannya hanya selangkah. Namun itu tak lama, dia dengan cepat berpindah ke sudut lain, masih dengan obyek bidikan yang sama. Selang beberapa waktu kemudian, dia menerobos padatnya jalan Malioboro sore itu. Daaan... dia berhenti di tengah-tengah jalan yang sedang disemuti ratusan kendaraan dengan kecepatan sedang itu. Dia berdiri di sana, menghadang arah kedatangan kendaraan sembari memoret. Saya hanya bisa memandang dengan takjub dari pinggir jalan.
Dengan langkah mantab dan penuh percaya diri, pria paruh baya itu memepet pedagang yang sedang terlibat tawar menawar dengan calon pembeli. Saya lihat dia sudah berganti kamera yang dipasangi lensa tele. Pandangan miring saya terhadap kamera mirrorless mulai terkoreksi. Selama ini saya menganggap kamera mirroless itu bak mainan dan tidak sesuai dengan passion fotografi profesional karena dimensinya terlalu ringkas dan cara melihat obyek bidikan melalui lcd, bukan view finder. Kali ini saya mulai iri dengan kepraktisan memotret menggunakan kamera mirrorless dibandingkan dengan DSLR. Pundak saya mulai pegal dengan beban tas kamera berisi lensa 80-200 mm dan sebuah flash gun.
Sepur yang memisahkah jalan Malioboro dengan jalan Mangkubumi menjadi persinggahan kami selanjutnya. Di sini kami bergerombol merubung obyek yang sama, tukang becak dan para penyeberang lintasan kereta api. Saya mendekati om Darwis Triadi. Saya penasaran dengan pola komunikasi dia dengan obyek foto, karena saya tak melihat percakapan dia dengan obyek tersebut. Perlu beberapa lama untuk memahami pengertian komunikasi menurutnya. Bahkan itu sudah dia utarakan tadi pagi di kelas.
“Wajah saya ini seram. Jangankan marah, saya diam aja orang sudah mengira saya sedang marah. Padahal tidak, saya ya hanya diam. Dari situ saya belajar menebar senyum.”
Ah... lagi-lagi saya merasa tertohok dengan pernyataannya. Seharusnya sedari dulu saya belajar kepadanya. Kebetulan wajah saya lebih menyeramkan.
Akhirnya, ketika kumandang adzan Magrib mengisyaratkan bahwa hunting ini telah selesai, saya berucap syukur. Delapan jam bersama om Darwis telah memberi banyak  hal baru kepada saya, tak hanya hal-hal seputar fotografi, tapi menjurus ke hal-hal seputar kehidupan.
Maka saya kian maklum ketika mas Harris Rinaldi, yang seyogyanya menjadi peserta acara ini, misuh-misuh ketika Surat Tugasnya dibatalkan karena ada tugas lain yang lebih penting.


Yogyakarta, 28 Februari 2014.
Post a Comment